Tampilkan postingan dengan label bicara psikologi politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bicara psikologi politik. Tampilkan semua postingan

23/06/09

“Argument um ad ...”

Terus terang saya bingung harus berkomentar apa. Oke, malam ini calon wakil presiden sudah berusaha untuk menghidupkan ‘debat’ menjadi debat yang sesungguhnya. Meskipun tetap saja yang terjadi lebih condong pada ajang diskusi dan-mengutip perkataan sang moderator malam ini, sebuah penyampaian presentasi.

Menengok suasana di luar panggung debat para calon wakil presiden, kondisi yang ramai dan menarik justru terjadi di tengah perdebatan sengit antar tim sukses. pertanyaan saya adalah, mengapa justru tim sukses yang lebih agresif? Sepengetahuan saya, tim sukses adalah crew, atau elemen yang menjadi tim operasional dari kebijakan calon presiden atau wakil presiden. Tapi malam ini, justru merekalah yang lebih layak disebut bintang panggung. Mengapa saya katakan demikian? Karena justru tontonan yang argumentatif, agresif, dan semarak seperti itulah yang sesungguhnya diinginkan.

Mungkin jawabannya ada pada seberapa besar aturan main berperan didalam arena debat. Jika KPU sebagai penyelenggara debat formal untuk calon presiden dan calon wakil presiden memberlakukan aturan khusus untuk moderator dan kandidat, seperti misalnya moderator dilarang mengejar atau mempertanyakan kembali secara menyelidik kepada capres atau cawapres, maka lain halnya dengan yang terjadi di luar arena tersebut. Di sebuah stasiun tv swasta dimana tim sukses berkumpul untuk bersama membahas acara debat yang baru berlangsung, justru muncul adu argumentasi, saling serang, dan bahkan saling menjatuhkan antar perwakilan kandidat. Memang bukan cara yang santun untuk sebuah negara dengan budaya ketimuran yang khas dengan keramahan seperti Indonesia, namun itulah ungkapan jujur yang diharapkan didengar oleh rakyat. Argumentasi yang keluar itulah yang kemudian menjadikan rakyat tau lebih dalam dan lebih asli dari tiap capres maupun cawapres.


Ada sebuah fenomena menarik yang terungkap didalam arena debat kusir di tengah tim sukses masing-masing kandidat. Jika disimak, beberapa kali petinggi-petinggi tim sukses menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dengan menunjukkan prestasi-prestasi yang menurut mereka semua orang sudah tau akan hal itu. Begini contohnya, ketika ada sebuah pertanyaan ditujukan kepada tim sukses dari calon incumbent misalnya, dan kemudian dijawab dengan “lihatlah saja pada kepemimpinan beliau selama lima tahun terakhir dan anda lihat betapa produktifnya beliau dengan berbagai program-program pengentasan kemiskinan, pada kenyataannya rakyat terbantu ”. Jawaban seperti itu menunjukkan bahwa sang penjawab sedang berargumen pada taraf argumentum ad populum atau secara mudah diartikan bahwa ia tidak langsung menjawab pertanyaan, namun memberikan bukti-bukti dengan cara menonjolkan kehebatan riwayat dirinya dan menonjolkan pribadinya (Ignas Kleden, 2009). Yang lebih menarik, masing-masing tim sukses juga melakukan argumentum ad populum dengan bahasan dan bidang yang berbeda. Masing-masing saling mengklaim bahwa pihaknyalah yang berjasa.
Lain lagi dengan kecenderungan berikut, jika kita perhatikan ketiga pihak yang diwakili oleh tim sukses masing-masing tampak saling menyerang secara pribadi. Misalnya dengan menyebut “..beliau terlalu berpikir secara akademis”, atau “kecenderungannya lebih didasarkan pada pribadinya yang berpihak pada asing”, dan contoh lain “pendapatnya hanya berkisar pada tatanan sistemik tanpa kesinambungan dalam implementasinya” . Contoh-contoh pernyataan yang demikian menunjukkan bahwa mereka sedang melakukan argumentum ad hominen yang berarti memberikan jawaban dengan cara menyerang pesaingnya secara pribadi dan juga pihak yang meragukan kemampuannya (Ignas Kleden, 2009). Menarik memang jika politik dikaji dari sudut pandang yang berbeda. Secara psikologis, argumen-argmen yang dikeluarkan memang wajar melihat posisi mereka sebagai pendukung dari masing-masing pihak yang berlainan. Apapun jawaban maupun argumen yang diberikan pasti ujungnya untuk memberikan pembelaan bagi pihak yang didukung. Kalau sudah begini, rakyatlah yang kemudian harus cerdas menentukan pilihan. Suguhan tersebut hanya provokatif bagi rakyat, dan seharusnya menjadi pemantik untuk dikaji lebih dalam mengenai apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan, dan apa yang sesungguhnya akan mereka kerjakan kelak setelah berhasil meraih tampuk kepemimpinan.

20/06/09

Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya...

Merasa familiar dengan jargon iklan tersebut ? ya, memang tidak ada yang aneh dalam jargon tersebut, maknanyapun saat itu hanya berkisar pada ajakan untuk menggunakan produk yang diiklankan. Namun dibalik kata-kata sederhana yang terangkai tersebut, ada sebuah fakta yang seringkali kita akui kebenarannya. Bahwa pandangan pertama selalu membawa kesan yang terdalam dan seringkali menjadi salah satu hal yang mendominasi penilaian kita terhadap suatu benda atau seseorang.

Jika melihat kondisi saat ini yang ramai dengan hiruk pikuk kampanye, debat kandidat, pidato politik, atau jargon-jargon kreatif yang di usung capres dan cawapres yang akan berlaga di Pemilu 2009 ini, kita akan disuguhi dengan aksi-aksi atau kata-kata menarik nan mengundang. SBY Berbudi saat ini secara positif lekat dengan kesan bijaksana, mengayomi, dan perpaduan yang harmonis antara dua orang yang saling melengkapi dari dua bidang profesi yang berlainan. Sedangkan JK Win, sisi positif mereka tergambar dalam ketegasan, tidak ragu-ragu, dan mengutamakan aksi konkrit dalam bertindak. Dan calon terakhir yaitu Mega Pro yang tak lain adalah satu-satunya capres wanita di pemilu 2009 ini adalah bahwa mereka berasal dari aliran partai yang sama, berbasis kerakyatan dan seringkali lekat dengan ungkapan wong cilik untuk menggambarkan bahwa calon ini merakyat dan bersimpati penuh kepada penderitaan rakyat. Lebih dari pada itu, sisi negatif yang tercipta seringkali juga mendominasi keseluruhan pandangan terhadap calon-calon tersebut. Kesan berpihak pada pihak asing, terlalu agresif dan berorientasi bisnis atau kesan sebagai provokator dan pihak oposisi dari calon incumbent adalah sebagian kecil dari sisi negatif yang ditangkap masyarakat. Tidak dapat dipersalahkan, aspirasi atau pandangan semacam itu muncul dengan sendirinya akibat doktrin media, maupun dari analisis tokoh-tokoh atau pemerhati politik, ekonomi dan psikologi yang saat ini banyak muncul dalam diskusi-diskusi publik.

Untuk itu, kemudian pembahasan meruncing pada sejauh mana penampilan di depan publik dari calon-calon tersebut turut mempengaruhi opini yang berkembang. Seperti disebutkan di awal, bahwa kesan yang terdalam seringkali muncul dari pandangan atau penilaian pertama. Maka dari itu, kita kenal fenomena Hello Effect yang menunjukkan betapa penampilan, atau kesan pertama sangat mempengaruhi penilaian akan sesuatu hal. Menurut Catur Suryoprianto (2009) Hello Effect adalah bias sistematik dalam penilaian terhadap suatu subyek, yang terjadi karena melakukan generalisasi dari satu aspek penilaian sehingga mempengaruhi seluruh aspek penilaian. Terjadinya Hello Effect dikarenakan cara berpikir individu yang cenderung membuat kategorisasi-kategorisasi mengenai sifat manusia, yaitu kategorisasi sifat-sifat baik dan sifat-sifat buruk. Melihat dari kecenderungan Hello Effect, maka pertanyaan yang muncul adalah apakah kesan yang ditampilkan di media benar-benar murni merupakan perangai atau orientasi dari calon-calon tersebut. Jangan-jangan, karena adanya kesadaran terhadap Hello Effect yaitu mengenai pentinganya kesan pertama, maka mereka justru berlomba untuk mendapatkan simpati publik dengan kata-kata manis, janji-janji surga dan perangai santun yang bakal memikat calon konstituen.
Adalah hal yang wajar jika upaya menarik simpati dilakukan pada masa dimana pilihan publik adalah yang menentukan hasil akhirnya. Namun perlu diingat pula bahwa tidak selamanya kesan pertama yang tercipta akibat lawatan calon-calon ke berbagai daerah, atau gaya berkampanye yang diusung ketiganya merupakan wujud asli yang nantinya akan membawa kemajuan bagi bangsa Indonesia. Sebuah optimisme dan pemikiran positif menutup tulisan ini, bahwa kesan terbaik yang berusaha ditampilkan oleh para calon di atas adalah wujud dari betapa mereka menghargai dan menganggap kita sebagai calon pemilih yang penting untuk didahulukan yang nantinya akan menentukan nasib mereka. Tentunya sebuah harapan terbersit kepada semua calon agar opini positif yang telah terbentuk dapat dibuktikan ketika mereka berhasil menduduki tampuk kepemimpinan pada periode lima tahun kedepan.