31/01/11

berakit-rakit dahulu..berenang-renang ke tepian

Semangat belum mengendur pagi ini, lebih tepatnya semangat berbalut kalut..apalagi ketika melirik kalender 'dummies' saya yang sudah menunjuk bulan ke-2 tahun ini...yang berarti pula sudah 1 semester lebih (menginjak) 2 bulan, malam-malam saya tak tenang karena skrip**.
apalah mau dikata, saya sudah menyadari konsekuensi ini jauuh hari..mengambil tema 'biasa' dengan proses 'yang tak biasa' plus dibawah bimbingan dosen 'luar biasa' membuat saya kerap maju selangkah, mundur 1,5 langkah....pelan tapi insyaallah pasti.. saya akan menuntaskan ini.. :)
dan siang ini...masih dalam rangka 'berakit-rakit dahulu' sebelum akhirnya mencapai tepian..berdua 'kami' melangkah dengan -gontai- semangat..menapak jalan setapak...untuk masa depan penuh harapan :D
saya berdua kali ini..bersama seorang wanita yang mengaku tangguh namun melankolis dengan tulisan dan petuahnya yang seringkali mengiris..

and now...tak apalah bergelut dengan perpustakaan, mengurangi hiburan dan dolandolan :p...'satu' kata dari kami..demi semprop bulan depan..dan demi toga 3 bulan ke depan (insyaallah..)...
inilah kami...dengan muka senang yang dipaksakan :




*lama-lama postingan saya agak tidak bermutu..mohon maklum...mutu saya sedang dicurahkan sepenuhnya untuk 'dia'... :)

25/01/11

berbagi dengan bulan dan matahari


malam....mengingat malam mendorong diri saya berpikir bahwa sebentar lagi kembali esok menjelang...
malam..memberi kekuatan untuk segera beranjak menyapa Tuhan
malam..memberi sedikit ruang untuk bernafas ketika dunia seolah berhenti berputar
malam..saatnya beraksi untuk kami yang belum terpejam
malam..membuat bimbang semakin menyeruak..bak kebuntuan yang tak kunjung bertemu ujung
malam menyapa..Tuhan membagi pahala..dunia mengelus dengan bahasanya..dan biarlah..disini tak kunjung terlelap untuk hanya sekedar menyapa alam mimpi saya..

siang..bola panas semakin angkuh saja menyapa alam
siang...tak membuat mata ini lekas terpejam meski berat dan panas
siang..berarti dua bagian..antara terang dan keinginan melakukan
siang..menjadi saat bergelut dengan uang, pekerjaan, kesibukan..dan tantangan
siang..tak berarti melupakan malam
siang..kembalikan malam

belajar menitipkan nasib pada waktu, kian membuat sebuah pembelajaran menjadi terburu-buru...waktu beranjak untuk keinginannya sendiri, tak peduli bisakah kita mengikuti...tak ada alasan untuk hanya berdiam diri, ketika waktu tak lagi turut menanti...siapkan langkah untuk seribu langkah kedepan...tinggalkan dan baca apa yang telah langkah kita lalui...tak perlu melupakan, karena pasti tak mudah meninggalkan..tak mungkin membagi karena tak ada yang bisa terbagi...dunia kita hanya sebatas bangun pada pagi hari dan berakhir di malam hari, sampai dini hari kita bukanlah diri kita...dunia menanti, meskipun di balik kita mereka telah berstrategi...menanti hingga mati, atau meninggalkan untuk membuat kita hidup abadi..

20/01/11

menikmati 'sendiri'

Setiap orang membutuhkan apa yang biasa kita dengar dengan ‘privasi’..ada yang mengartikannya dengan ruangan sendiri, waktu menyendiri, atau kalangan terbatas, yang artinya tak jauh dari makna pembatasan diri dari unsur-unsur asing di luar diri dan lingkaran nyamannya. Tak semudah yang dibayangkan, terkadang mencapai sebuah privasi sulitnya bukan main. Jangankan seorang public figure yang kemanapun adanya dirinya selalu dikenal, seorang biasa seperti saya, kita, dan anda yang merasa sebagai orang biasa pun tak jarang sulit menikmati privasi.
Karena privasi tidak lagi terbatas pada makna kesendirian, namun lebih jauh membawa kita pada kondisi yang terbebas dari pantauan orang-orang terdekat, jejaring sosial, alat komunikasi, bahkan lingkungan di sekeliling kita berdiam diri.
Entah apakah anda merasakannya, namun saya pernah merasa amat membutuhkan privasi di tengah padatnya rutinitas, bersosialisasi, monitoring langsung via telephone dari manapun mereka, hingga tekanan deadline kuliah dan... (mungkin masih banyak ‘unsur-unsur lain’ yang menguras habis kebebasan saya). Bukan berarti saya menginginkan kesendirian atau kesepian, namun kadang kala (dengan intensitas yang amat jarang) saya butuh perhatian lebih untuk diri saya sendiri yang artinya saya butuh sendiri (mungkin ini yang saya sebut ‘privasi’).
Disinilah,seringkali saya memutar otak untuk ‘hal tidak penting ini’. Entah di pagi, siang, sore maupun malam hari, tak jarang saya mendadak memiliki keinginan untuk menciptakan kesendirian. Bergegas pergi seorang diri dengan motor matic saya adalah satu pilihan yang paling saya rekomendasikan untuk menikmati kesendirian. Dengan catatan anda bukanlah orang yang mudah melamun, atau terlena ketika sedang sendiri, karena jika demikian cara yang satu ini sangat tidak dianjurkan. Bayangkan, apa yang terjadi dengan laju kendaraan bermotor di tengah keramaian kota ketika sang pengemudi melamun...!?

Beruntung saya menghabiskan 3 tahun belakangan di kota ini, sejuk ketika malam, agak menyengat di waktu siang, dan tak terlampau ramai untuk ukuran sebuah kota besar. Dengan ritme kota yang tenang, satu pilihan menarik untuk dapat berkendara sendirian di waktu-waktu senggang. Dijalanan inilah saya biasa berbasa-basi dengan kesendirian, menikmati sengatan mentari, atau hembusan angin dari dinginnya kota di waktu malam sudah biasa saya rasakan. Meskipun ada keramaian di sekeliling saya, namun disinilah saya merasa menikmati seutuhnya diri saya dengan semua beban pikiran yang tengah melanda. Satu-dua tikungan terlampaui, satu-dua masalah teratasi, satu-dua senyum terukir, satu-dua tetes air mata bergulir..

"..dan di jalan inilah, di tengah keramaian malioboro (yang sangat jauh dari kesan sepi), menjadi satu rute favorite saya memecah kepenatan dan kebisingan hidup dengan ‘menyendiri’..."
Saya menginginkannya lagi, sendiri melewati jalanan yang tak sunyi..di atas roda kendaraan yang terus berputar..membawa saya dalam keheningan, kesendirian..namun tidak dengan tetesan air mata kepedihan..